365 Score Network_Live Casino_Live Baccarat official website

  • 时间:
  • 浏览:0

Bet365 EBet365 EntertainmentntertBet365 Entertainmentainment?“Bagaimana ini, Dian Bet365 EntertainmentkalaBet365 Entertainmentu misal Indra yang main tambah gila gue, bagaimana ini?” ocehan gue yang tidak ditanggapi oleh Dian dari mukanya kelihatan Dian pun sedang gerogi.

“Aku suka sama tari, ia dapat berbicara dan menggambarkan emosi melalui gerakan tanpa perlu diucap kalau kamu?.” Jawab gue.

Gue hanya bisa menahan teriakan yang dihasilkan debaran jantung gue yang semakin cepat. Gue tarik napas terus sampai suara alunan musik terdengar, gue pejamkan mata dan mulai mengikuti setiap nada yang dihasilkan. Tarian yang gue bawakan hari ini bersama dengan Dian berceritakan tentang seorang gadis yang sangat merindukan masa kecilnya dengan iringan musik klasik dimana penonton dibawa kembali mengingat kenangan di masa kecil.

Tidak ada yang salah dengan menunggu, tidak ada yang salah dalam hal menyukai dan tidak ada yang salah setia dengan satu pilihan.

“Ya namanya juga orang cakep wajar kali, kalau sebangsa lo juga suka sama dia.” Ledek Dian.

Pada hari itu juga, penantian gue membawa kepada satu titik dimana kini hari-hari terakhir di perkuliahan jauh terasa lebih berwarna. Terimakasih, Indra.

“Yakin!” Jawaban gue yang selalu meyakinkan ketika ditanya pertanyaan sedemikian rupa, walaupun pada akhirnya gue pun mikir ‘Indra aja belum tentu kenal gue’ hahaha.

“Hah? Ngarang aja lo.” Timpal gue.

“Iya, aku mau, mari kita buat kolaborasi seperti konser kemarin untuk sebuah kisah yang tidak akan berakhir dengan kata selesai.” Jawabku dengan rasa bahagia sekaligus haru.

“Yaudah, yuk, masuk kelas.” Ajak Widi.

“Lo udah dingin kaga usah malah jadi es, eh, ada nih temen gue namanya Lian katanya suka sama lo. Mau gue jodohin sama dia gak?” perjodohan itu dimulai lagi olehnya. Tidak sekali, tetapi sering dia menjodohkan gue dengan teman-temannya. Mulai dari kakak tingkat di jurusan gue sampai di adik tingkat jurusan seni rupa terapan.

“Ara, kamu kenapa mau masuk tari? Bukannya banyak jurusan di kampus kita?” tanya Indra.

“Iya gue suka sama dia, dari caranya jalan, caranya ketawa, mukanya yang dingin dan suaranya yang buat gue seketika menjadi es.” Pengakuan gue.

“Karena dari kecil memang suka musik aja sih hehe.” Jawabnya.

Tepukan tangan mengiringi kaki ini menaiki anak tangga satu persatu, hingga tiba di atas panggung mata gue tertuju kepada salah satu pemain musik, ya, itu Indra! Indra tersenyum dengan memberi bunga sesuai dengan koreografi yang gue rancang saat latihan.

Hadirin yang berbahagia mari kita sambut dengan tepuk tangan, penampilan teatrical musical yang akan dibawakan oleh mahasiswa tari dan mahasiswa musik semester tujuh!

“Aduh, mohon maaf nggak deh, gue masih mau nunggu aja.” Pembelaan gue.

Hari konser itu pun dimulai, semester tujuh dan mahasiswa baru sudah di hadapan yang membuat gue debar-debar cemas bukan hal itu melainkan pengiring musiknya asli dari mahasiswa musik. Padahal waktu latihan tidak pernah kami dijadikan satu waktu bersama.

 “Lo kesambet apa, Ra?” Widi bertanya dengan muka yang masih penasaran.

Setiap mengingat kejadin itu, gue selalu merasa aneh sama yang dirasa. Seorang Ara yang biasanya dingin ke semua laki-laki, kini rela menunggu sosoknya datang, bermain musik, bernyanyi, bahkan rela menunggu untuk dapat berbicara dengannya. Padahal gedung latihan kita berbeda tetap saja ada cara untuk melihatnya dari jauh. Setahu gue dari hasil pengamatan sejauh ini, Indra masih jomblo juga jadi gue lanjut untuk mengidolakannya. Ya, karena gue udah janji sama diri sendiri ‘gak bakal suka sama orang yang sudah memiliki pasangan.’

Seketika gue tidak dapat berkata-kata, hal yang serupa ternyata dia rasakan belum sempat gue menjawab penjelasannya dia kembali berkata, “Maukah kamu menjadi pelengkap laguku agar menghasilkan cerita yang jauh lebih indah?”

Di antara yang lain memang hanya gue yang masih konsisten jomblo dari semester pertama sampai semester enam. Kalau kata teman-teman, gue ini ratunya menunggu hahaha. Kala itu, setiap ada yang bertanya “Pacar lo mana? Sendirian aja kemana-mana.” Gue pasti jawab “Tenang ini lagi ditunggu.”

Percakapan kami pun berlanjut dan kini gue memiliki nomor ponselnya, hampir tiap hari kami berbagi cerita dari pengalaman masing-masing. Seru, dia tidak sedingin yang gue kira sebelumnya sebulan setelah kami bertukar cerita akhirnya Indra mengajak gue pergi mengunjungi galeri seni di Yogyakarta. Kebahagiaan gue tiada tandingnya di hari itu, gue percaya sama kalimat menunggu dan yakin. Hal yang gue kira mustahil kini ada di depan mata.

“Kamu, dari lama aku memperhatikan kamu, tapi kamu terlihat dingin maka dari itu aku tak berani menyapamu dan pada hari ini kamu ada di depan aku.” Jelasnya.

“Oke, deh, memang lo yakin dia akan jadi milik lo?” kata Dian.

“Yuk.” Timpal gue.

“haha nggak, itu tadi apa….ada itu…” Jawaban gue masih ngambang, raga gue masih tertinggal di bangku dan senyuman itu.

Sejak saat itu gue juga ikutan mengidolakan Indra, tetapi naasnya, ketika gue mengidolakan Indra teman-teman gue sudah berhenti mengidolakannya. Jadi setiap gue senyum-senyum sendiri, dijadikan bahan ledekan oleh teman-teman gue.

Setelah latihan teatrical musical untuk konser terakhir kami sekaligus menyambut mahasiswa baru, gue ditanya sama salah satu partner nari gue. Sebut saja namanya Dian, percakapannya seperti ini.

Seketika hening, saat gue berdiri di hadapan lukisan yang sangat indah Indra berkata “lucu ya, aku gak nyangka bisa berbicara dan pergi dengan instrumen yang selama ini hanya dapat aku dengar dari jauh tanpa bisa menggabungkannya menjadi sebuah lagu.”

“Ara, lo suka yan sama Indra anak kelas musik?” tanya Dian.

Nama gue Ara, gue sedang menempuh pendidikan seni tari di salah satu institut yang ada di Yogyakarta. Tahun ini menjadi tahun terakhir gue menempuh pendidikan di sini. Banyak sekali pengalaman seru yang gue rasakan, mulai dari bertemu teman yang banyak dengan karakternya masing-masing sampai kejadian perjodohan.

“Maksudmu?” tanya gue.

Singkat cerita, gue kenal dia juga baru beberapa bulan terakhir ini. Sedangkan teman-teman gue banyak yang mengidolakan dia. Salah satunya Widi, waktu itu kita makan di kantin kampus dan Widi tiba-tiba narik tangan gue sembari berkata “Ara! Jam dua belas, lihat jam dua belas!” Dengan polosnya gue lihat jam tangan gue “Sekarang masih jam sepuluh, weh, halu ya lo?”. Seketika juga kepala gue dihantam dengan botol minumnya.”Sakit Widi! Gila ya lo?” kata gue setelah botol itu mendarat di kepala. Bayangkan botol yang ada airnya masih penuh dan bukan dari plastik tapi dari alumunium gitu dipukul ke kepala, memang Cuma si Widi yang tega sama gue.

“Mari kita buat harmoni yang indah di antara musik dan tari.” Kata Indra dengan senyuman di akhir kalimatnya.

Terima kasih sudah melakukan yang terbaik.” Sosok itu adalah Indra. Orang yang selalu gue tunggu agar dapat berbicara dengannya dan sekarang gue tepat ada di depannya. “I..iya makasih.” Kata gue. “Aku Indra, kamu siapa?” tanyanya. “Aku Ara, senang mengenalmu.” Sahutan gue, gue gak tahu ekspresi apa yang dihasilkan saat itu.

Ntah ya, kalimat menunggu untuk hal pasangan menjadi andalan gue ketika ditanya tentang kejombloan gue. Sebenarnya gue memang lagi nunggu, yaa nunggu dia. Sebut saja namanya Indra, dia salah satu mahasiswa seni musik di kampus gue. Dengan tubuh yang tinggi dan kulit yang putih bersih serta rambut lurus setelinga. Biasanya Indra datang dari arah pintu masuk yang berbeda dari kedatangan gue, dengan menggunakan kaos dan ekspresi muka yang selalu terlihat dingin ke siapa pun. Ya terlebih ke gue, sepertinya.

***

“Lo yaa tolong, gue lagi nunjukin orang cakep bukan nyuruh lo lihat jam tangan hadeeeeeh!” sambatnya setelah menyaksikan gue kesakitan. “Oh yang itu idolanya kampus?” kata gue dengan tangan menunjuk ke Indra. “gak usah nunjuk juga kali, Ra.” Widi narik tangan gue, tetapi saat gue melihat Indra lagi dia pun natap mata gue dan seketika gue seperti mayat hidup yang tidak bisa berkedip sedikit pun. Melihat sikap gue itu, Widi langsung menepuk pundak gue untuk membayar makanan dan segera masuk ke kelas berikutnya.

***

Satu jam setengah menit mampu menghipnotis penonton dan membuat mahasiswa baru tertantang untuk dapat berkreasi dengan seni yang sudah dipilih. Setelah selesai pertunjukan gue turun panggung dengan perasaan lega, saat gue minum dan mengistirahatkan diri gue tiba-tiba ada sosok yang gue kenal memberi handuk kecil. “Ini, buat kamu.