Baccarat simple best strategy_How to play baccarat_Blackjack bookmaker advantage_Baccarat is full of leisure

  • 时间:
  • 浏览:0

LLive Baccarat Platformive Baccarat Platformlantas, begitu adegan Rangga membaca alamat rumaLive Baccarat Platformh Ibunya yang tinggal di Jogja, pikiran kita secepat kalkulator langsung bisa meramalkan apa yang akan terjadi: Cinta ke Jogja. Rangga juga akan ke Jogja. Mereka bertemu, berciuman, dan pasti akan ada penonton yang berkomentar “Suaminya Dian Sastro nggak marah apa ya?”

AADC? 2 adalah film yang secara umum menghibur, itu pasti. Namun, disadari atau tidak, kita gagal move on. Memori kita akan AADC yang sejatinya menghibur diri kita.  Banyak adegan-adegan atau dialog seadanya yang menjadi bernilai karena berjuta ingatan akan AADC pertama masih tertanam. Sebagai film yang berdiri sendiri, AADC? 2 tidak sukses berdikari. Terlalu bertumpu pada nostalgia. Sama seperti konflik tokoh Rangga dan Cinta yang gagal move on di film ini.

Saya sedikit geli mendapati penonton bisa berseru tegang ketika adegan Rangga secara kebetulan melintas di depan kafe tempat Cinta dan gengnya tengah ngobrol. Seolah-olah ada kemungkinan Rangga dan Cinta tidak akan bertemu sama sekali lalu film ini hanya jadi perjalanan My Trip My Adventure edisi sosialita Yogyakarta.

Rangga yang tempo dulu begitu dewasa, cuek, introver, jual mahal, dan kritis ala Soe Hok Gie kini menjadi pengemis cinta ala “Jatuh bangun aku mengejarmu”. Selepas nonton pertunjukan boneka Pappermoon, ada satu adegan yang sempat bikin Cinta marah. Hem, di situ kita justru jadi ingat inilah seharusnya Rangga yang legendaris itu. Yang ngomong sekenanya, sinis, tapi layak jadi panutan.  Sayangnya, selain momen itu, ia hampir seperti Raffi Ahmad di film Love Is Cinta yang menye-menye.

Saya kira film ini akan jauh lebih menancap di hati andai diakhiri sekitar 20 menit lebih dini. Tepatnya di adegan Cinta pulang dari Jogja. Lantaran hampir tak ada lagi elemen berkesan sesudahnya. Buat yang ada niatan nonton lagi, silahkan catat pula betapa menjenuhkannya dialog Cinta dan Rangga di adegan pamungkas film ini. Plotnya terlalu polos untuk menggiring emosi penonton dari momen konflik menuju ending. Ibarat naik pesawat terbang, pendaratannya terlalu mulus. Tidak ada tabrakan kecil-kecilan. Hmm…..ya itu baik sih. Oke, saya yang salah cari analogi atau perbandingan. Tetap harusnya pembaca yang budiman paham.

Apa pun ceritanya, Dian Sastro tetap absolut. AADC? 2 sukses meresmikan lagi kesepakatan kaum Adam se-Tanah Air bahwa posisi Dian Sastro sudah di atas wanita cantik. Riri Riza sengaja sekali tidak membiarkan ada satu pun adegan untuk Dian terlihat manusiawi dan pas-pasan. Ini masalah besar, karena bikin kita salah fokus. Di bioskop, terkadang sayup-sayup kita sampai bisa mendengar suara komat-kamit ucapan istigfar dari para laki-laki…

Dibanding sekuel drama lain, karya arahan Riri Riza ini seperti benar-benar hanya mengawetkan kembali apa yang sudah dibangun di AADC oleh Rudi Soedjarwo selaku sutradara. Bukan menciptakan bangunan lain dengan warna yang selaras. Laksana seorang anak yang belum berani lepas dari orang tuanya.

.

Alhasil, 20 menit bangunan awal cerita untuk mempertemukan keduanya jauh lebih lemah dibanding ketika Cinta menemui Rangga karena ia kalah lomba puisi, dan berusaha meliput sang pemenang. Cuma butuh 10 menit, tapi sampai sekarang kita masih terkenang bahwa kalah lomba mungkin adalah sinyal kemenangan dalam jodoh