bet36 sports betting_Baccarat card type_Live Baccarat Platform_Indonesia Gaming_Betting software

  • 时间:
  • 浏览:0

Aku seSabah SSabah Sports Official Websiteports Official Websitendiri pun tak paSabah Sports Official Websiteham kenapa semua ini bisa terjadi padaku. Bahkan, kawan-kawanku yang mendengar kisahku pun hanya dapat menggelangkan kepala seraya berkata,

“Hey kamu! Iya, kamu yang dulu kuanggap sebagai sahabat sejati…”

Aku masih selalu bertahan sebagai sahabatmu yang setia. Sejauh itu, aku nyaman-nyaman saja dengan dirimu. Aku masih bisa menangani segala kurang dan lebihmu. Sekali lagi, aku hanya berusaha memaklumi.

Namun apa yang terjadi setelahnya? Seperti roda, kehidupan terus berbalik dan berputar. Ketika kesulitan kini giliran menderaku, kenapa kau tak gantian membantuku? Padahal, aku masih menganggapmu sebagai sahabat, maka aku tak ragu meminta bantuan padamu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kau bahkan tak berusaha membalas telepon dan menghubungiku. Apa kau tak mengkhawatirkan keadaanku? Apa kau tak mau sekadar memastikan kalau aku baik-baik saja?

Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Tak terhitung aku dan kamu kini telah terbentang jarak dan waktu. Tahun demi tahu sudah terlewati hingga hari ini aku memikirkan dan merindukanmu kembali.

Aku mengingat semua yang pernah kita lewati. Tentang momen pahit dan manis yang pernah kita lalui. Dengan segala kurang dan lebihmu, rasanya aku ingin bernostalgia dan menuliskan bait demi bait persahabatan cerita masa lalu.

“Aku tetap sahabatmu dan mungkin aku sedang merindukanmu…”

“Kau cuma dimanfaatkan. Dia itu seperti parasit dan kau tak pernah sadar.”

Kalau kita tidak bersama, entah di saat sekolah atau jalan bersama, berkirim pesan teks sudah jadi kebiasaan. Selalu begitu dan sebagai sahabat tentu kita tak seharusnya keberatan. Tapi, seringkali kau hanya ingin berkeluh kesah tentang kesulitan dan masalahmu.

Di suatu sore, kudengar notifikasi dari telepon selularku. Sebuah pesan singkat dengan nama yang tak asing. Kamu. lagi. Kau menanyakan kabarku tapi dari situ pun aku tahu bahwa kesulitan tengah menderamu. Aku turut sedih mendengarnya dan lagi-lagi aku pun tak keberatan mengulurkan tanganku seketika.

Lagi-lagi sebagai sahabat, aku memaklumimu. Aku dengarkan semua, sesekali mengiyakan dan memberi saran sebisaku. Tapi sampai kapan aku harus jadi pendengar? Kenapa kau tak pernah mau bertukar tempat denganku? Kenapa selalu aku yang mendengar sedangkan kau yang berbicara sepuasnya?

Sebagai sahabat yang baik, aku berpikir positif saja. Toh seorang sahabat harus selalu ada saat yang lain membutuhkan. Ketika aku meluangkan waktuku, kau pun terbiasa berbicara sepuasmu. Menceritakan semua masalahmu tanpa kau peduli apa yang terjadi padaku.

Tapi satu lagi polahmu yang tidak aku mengerti. Kau sering memintaku mengantar dan menjemputmu ke mana pun kau pergi. Aku anggap itu sebagai ajakan bermain bersama dan itu menyenangkan. Lama-kelamaan, frekuensi itu menjadi semakin sering. Aku bertanya-tanya, kenapa kau selalu meminta pertolonganku. Sementara, hal-hal sepele yang kau minta dariku seharusnya bisa kau penuhi sendiri.

Ah, tapi sudahlah. Tenanglah, Sahabat! Kini aku tak lagi membencimu. Pun aku telah ikhlas dan memaafkan segala perilakumu. Aku hanya berharap kau kini telah menjadi pribadi yang matang. Darimu, aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Aku juga belajar bagaimana seharusnya menjaga sebuah ikatan persahabatan. Satu hal yang aku ingin kau tahu,

Kau pun tak jarang meminjam uang atau meminta dibayari saat makan bersama. Sesekali tentu wajar-wajar saja. Tapi kenapa hampir setiap saat kita bersama kau melakukan hal yang sama? Seringkali aku bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya kau mau dariku? Kenapa aku merasa tidak diperlakukan layaknya sahabat?

Aku hanya terdiam dan merenung. Mungkin memang benar kata mereka. Hingga saat ini tak lagi kudengar kabar darimu dari balik telepon selularku dan menyapamu terlebih dahulu saja aku sudah trauma. Kau pernah jadi bagian hidupku, tapi apa yang kau lakukan cukup melukai hatiku.